Minggu, 17 Maret 2019

Fenomena Guru Berprestasi


Fenomena Guru Berprestasi
Mantagi Dodi Saputra

            Alhamdulillah, penulis berhasil meraih juara pertama guru SD berprestasi tingkat Kota Padang tahap pertama. Namun, karena ada syarat tertentu, penulis tak diperbolehkan untuk maju ke tingkat provinsi. Meskipun demikian, penulis ingin sedikit berbagi perihal perjalanan menjadi guru berprestasi. Walaupun masih terbilang muda, penulis memberanikan diri untuk mencoba dan terus berkarya menjadi guru yang lebih baik untuk negeri ini.
Ya, guru masa kini dituntut berprestasi. Prestasi ini tentu sesuai dengan keahlian masing-masing. Ada yang menjadi pemenang atau sering menjuarai perlombaan tertentu. Ada pula yang telah berkiprah di lingkungan masyarakat. Semuanya itu dibuktikan dengan bukti fisik berupa sertifikat atau piagam penghargaan lainnya. Tetapi, cukupkah dengan itu guru dikatakan berprestasi?  
            Prestasi demikian hanya berlaku untuk diri sendiri. Nah, prestasi saat ini lebih dari itu. Prestasi ini diseleksi oleh instansi resmi yang membidangi semua guru-guru tersebut. Ringkasnya, guru bukan mudah diberikan gelar sebagai guru berprestasi, melainkan harus menjalani berbagai tes yang amat panjang. Mulanya, mereka dipilih oleh sekolah, lalu diseleksi ke tingkat kecamatan, lanjut ke tingkat kota, provinsi, dan berakhir hingga ke tingkat nasional. Kelihatannya mudah, tetapi tak semudah membalikkan telapak tangan.
            Guru yang telah lulus seleksi dari sekolah, akan mengikuti rangkaian tes yang menjemukan dan melelahkan. Tes itu antara lain; tes tulis, tes wawancara seputar pendidikan, tes menulis dan berbahasa Inggris, tes kemampuan komputer, penilaian portofolio, dan presentasi. Singkat cerita, ketika telah sampai di tingkat kota, guru akan bertemu dengan guru-guru dari perwakilan kecamatan. Di sinilah persaingan semakin ketat. Mereka merupakan lima besar guru terbaik yang tentunya punya kelebihan dibanding guru berprestasi lainnya.
            Semangat bersaing pun semakin kuat, ketika melihat guru lain membawa sekoper bahan-bahan dan perlengkapan presentasi. Namun, di antara `senjata` mereka itu dinilai tak begitu kuat, karena hanya sebatas perangkat pembelajaran, surat-surat keterangan atau keputusan, dan beberapa hasil penelitian di kelas. Sementara ada satu bahan yang besar poinnya, tetapi sedikit bahkan nyaris tidak ada pada mereka. Bahan itu adalah karya tulis (baca: buku).
            Hal itu membuktikan bahwa guru berprestasi bukanlah sebatas guru yang berhasil mengajar dengan perangkat pembelajarannya, namun guru berprestasi itu adalah guru yang dapat memberikan inovasi dan kreasi dalam pembelajaran. Guru pun dituntut untuk mengembangkan potensi diri dalam hal menghasilkan karya tulis. Inilah yang banyak dikeluhkan dari banyak guru berprestasi. Mereka kesulitan dalam membuat karya tulis.
            Sebenarnya ada niat untuk membuat karya tulis, tetapi media atau wadahnya sangat terbatas. Untuk guru yang berada di kota atau berduit, mungkin bisa saja mengikuti semacam pelatihan menulis buku. Tetapi bagi guru yang tidak memiliki uang yang cukup, hal ini menjadi masalah. Baru-baru ini pun ada pelatihan menulis bagi guru. Tapi itu, sayangnya berbayar terbilang mahal. Apalagi tempatnya juga mewah dan berkelas.
Alangkah baiknya jika para pemangku jabatan instansi pemerintah memberikan pelatihan gratis bagi para guru. Prediksi penulis, pelatihan semacam ini dimaksudkan dapat menjadi semacam angin segar bagi mereka. Sehingga jika ada program yang menginginkan setiap guru bisa memiliki karya tulis berupa buku, maka itu bukanlah mimpi belaka. Tentu kegiatan tersebut dilaksanakan dengan pembimbingan penulisan karya tulis yang terstruktur dan terukur.
Perihal dana pelatihan tersebut, tentu orang pintar dan para penguasa di daerah ini sudah lebih cerdas dari penulis untuk mencari solusinya. Kalau berbicara tentang kualitas guru, pemerintah sudah harus membuka mata lebih lebar pada dunia pendidikan saat ini. Guru bukan hanya mengandalkan masa atau lama mengajar, tapi juga harus punya inovasi. Sehingga mereka pun tidak akan kehabisan cara untuk menghadapi peserta didik, dengan berbagai tingkahnya.
Bagaimana pun juga, keberhasilan mencapai tujuan pembelajaran, salah satunya sangat ditentukan oleh guru. Ketika guru berprestasi ini sudah diberikan kecakapan di bidang pendidikan, ia akan terus berusaha memberikan bimbingan dan pengajaran yang berkualitas. Inilah yang menjadi keresahan dalam obrolan guru-guru beberapa waktu lalu. Semoga pemerintah terkait membaca dan mendengarkan suara hati guru-guru ini dalam menghasilkan karya tulis. Pelan tapi pasti, perlahan dan terus berjalan. Jika memang serius pada program satu guru, satu buku, niscaya dapat dengan mudah terwujud. Agaknya, penulis cukupkan terlebih dahulu. Di tulisan selanjutnya, penulis akan melanjutkan bagaimana seleksi guru berprestasi tersebut bisa lebih objektif, netral, dan komprehensif. Insya Allah.* Padang, 2019


Dodi Saputra, Guru Berprestasi Kota Padang asal SDIT Dar El Iman Padang.

Kamis, 06 Desember 2018

Etika dan Estetika Berbusana di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN-Dodi Saputra


            Sebetulnya pakaian menjadi suatu kebutuhan pokok bagi banyak orang. Tetapi terkadang beberapa orang kurang memperhatikan akan hal ini. Padahal,  berkat adanya pakaian, manusia bisa terlindung dari panas dan hujan. Pakaian juga bisa menjaga manusia dari dingin yang merasuk  dan panas yang bisa membuat kulit semakin gelap. Beberapa kalangan lebih menyukai pakaian impor. Selanjutnya, beberapa kalangan lebih memilih mencintai produk dalam negeri atau istilah asli Indonesia. Mau pilih pakaian luar negeri atau dalam negeri, yang penting mereka harus melihat sisi-sisi positif, yakni kualitas dan harga yang bersaing. Kelihatannya ini hal sederhana, tetapi ini tidaklah mudah untuk sekadar melihat dari dua sisi itu. Bayangkan, apa yang terjadi bila budaya konsumsi masyarakat suatu negeri hanya membeli produk luar negeri? Setidaknya ada beberapa anggapan yang patut diungkap dalam permasalahan semacam ini.
            Pertama, kualitas produk buatan luar negeri lebih bagus dari buatan sendiri. Ada sebuah kebanggaan yang timbul ketika menggunakan produk luar negeri. Baik secara bahan, motif, corak, dan kualitas lainnya. Membandingkan salah satu produk lokal dengan produk impor dinilai menjadi keharusan. 
            Kedua, kualitas produk dalam negeri belum bisa bersaing. Anggapan ini yang mesti dibuang jauh. Malah sebaiknya, adanya sikap optimis bahwa produk dalam negeri ini bisa bersaing dengan produk luar. Sehingga akan ada upaya-upaya peningkatan kualitas produk dalam negeri untuk selanjutnya bisa dipasarkan hingga ke luar negeri.
            Ketiga, untuk bisa keren, harus pakai produk impor. Pergaulan menjadi pemicu dalam hal ini. Bergaul dengan teman yang berselera tinggi, membuat seseorang harus mengikuti pola hidupnya. Bila ada perbedaan, maka ia akan dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman, tidak update, tidak gaul, dan sebagainya. Sebenarnya untuk hal keren itu adalah relatif. Tak wajib membeli produk luar negeri.
            Dari ketiga pertimbangan di atas, dapat dilihat bahwa perlunya membudayakan cinta produk dalam negeri, sebagai bukti adanya upaya untuk meningkatkan daya saing terhadap produk luar negeri. Namun, bukan berarti bahwa semua produk luar negeri itu tidak boleh dipakai. Produk luar negeri boleh dipakai, asalkan tetap sesuai dengan tata aturan etika dan estetika berbusana di Indonesia. Memang cara dan model pakaian di Indonesia berbeda-beda. Tetapi masih ada suatu aturan yang mengikat kuat dan tak akan pernah berubah, barangkali sampai akhir zaman. Aturan itu adalah aturan yang berasal dari agama. Agama telah mengatur seluruh sendi-sendi kehidupan, termasuk dalam hal berbusana dalam kehidupan sehari-hari.
            Agama sebagai panduan berbusana. Berbusana bisa saja sulit dalam hal pemilihannya. Sebab, seseorang dipengaruhi oleh berbagai model dan jenis busana. Inilah pemilihan busana yang terkadang membuat seseorang kurang tepat membeli dan memakainya. Busana yang mahal dengan produk berkualitas tinggi sempat menggiurkan pembelinya. Sementara aspek tata aturan berbusana menurut agama tidak diindahkan. Inilah salah satu hal yang perlu diketahui, bahwa panduan berbusana sebaiknya menyesuaikan dengan agama. Ketika panduan ini diikuti, bisa mendatangkan kebaikan bagi pemakainya maupun orang-orang di sekitarnya.
            Agama tolak ukur beretika dan berestetika berbusana. Islam secara jelas telah memberikan tuntunan dalam berbusana secara islami. Inilah salah satu etika yang layak diikuti bagi umat manusia. Petunjuk berbusana dengan mengutamakan pada hijab syar`i. artinya, seluruh umat manusia yang beragama Islam, maka harus senantiasa mengindahkan hal tersebut. Sebuah cerminan etika yang baik akan tampak dari diri seorang muslim ketika menutup bagian tubuhnya. Aurat adalah salah satunya.
            Akhir-akhir ini telah banyak digalakkan gerakan menutup aurat. Nah, di sinilah letak seseorang bisa berbusana muslim. Busana merupakan salah satu cerminan bagaimana akhlak seseorang. Setidaknya berkat berbusana muslim, seseorang bisa menjaga dirinya dari bahaya gangguan orang lain, selain syiar bagi umat muslim lainnya. Nilai estetika secara tidak langsung akan timbul berkat busana yang menutup aurat. Bahkan lebih rapi dan terlihat sopan bagi orang-orang yang mengetahuinya.
            Masyarakat Ekonomi Asean telah di depan mata. Persaingan pasar bebas di dunia semakin luas. Produk-produk yang beragam membuat manusia harus memegang teguh pendiriannya. Ketika sudah memutuskan untuk mencintai produk dalam negeri dan mengikuti petunjuk agama, hendaklah selalu berada di jalan itu. Ketika melihat orang yang belum mengikuti aturan, sikap kita adalah tetap istiqamah dan terus mendoakan mereka. Mudah-mudahan bisa juga diberikan petunjuk untuk tetap berhijab syar`i di tengah kerumunan busana luar negeri yang beragam itu.* 



Biodata Dodi Saputra-Penulis Sumatera Barat-Masa Karya 2018



Dodi Saputra lahir Selasa Legi, 25 September 1990/ 5 Rabiul Awal 1411 Hijriah di Desa Mahakarya, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, Indonesia. Penggiat literasi ini telah menamatkan pendidikan TK Bakti IV Raudhatul Athfal Mahakarya, SDN 77 Mahakarya, SLTP Negeri 2 Pasaman, dan SMA Negeri 1 Pasaman. Ia saat ini tinggal di Padang bersama istri dan anaknya. Sehari-hari ia mengajar tahsin dan tahfiz, serta karya tulis di SD Islam Terpadu Dar El Iman Padang. Ia juga membina Ekstra kurikuler Sanggar Sastra Ar-Risalah Padang. Pernah juga membina jurnalistik di SMA Pertiwi 2 Padang tahun 2014 dan SMA 11 Padang tahun 2015.
Pria murah senyum ini adalah putra pertama-dari tiga bersaudara-pasangan Drs. Jumono dan Sriwidayati, S.Pd. Ia tekun menulis cerpen, puisi, opini, feature, esai, berita, resensi, dan novel. Sampai saat ini ia berhasil menulis 5 buku tunggal; novel berjudul Bumi Mahakarya dan buku cerpen Musim Bunga di penerbit AG Litera, Yogyakarta tahun 2014. Seterusnya, buku puisi Api Ziarah penerbit FAM Publishing, Pare, Kediri 2014. Ketiganya diluncurkan di Palanta Walikota Padang tahun 2014. Buku motivasi terbarunya yakni 100 Strategi Mahasiswa dan Sarjana Sejati di penerbit Kekata Publisher, Surakarta tahun 2018. Segera terbit buku berikutnya berjudul Surau & Manusia Akhir Zaman di penerbit Guepedia tahun 2018.
Ragam tulisannya berupa karya fiksi dan nonfiksi dimuat di berbagai media; Singgalang, Rakyat Sumbar, Haluan Padang, Padang Ekspres, Harian Analisa (Medan), Riau Pos, Lampung Pos, Banjarmasin Post, Radar Bromo (Surabaya), Metro Riau Pos, Minggu Pagi (Jogja), Majalah Walida (Jawa Timur), Inilah Bogor, Tabloid Suara Kampus dan Tabloid Medika Kampus. Tulisannya juga terbit di media online; Suara Redaksi Okezone, Wawasanews, Indonesianpride.com, Media Mahasiswa, dan Sastra Indonesia.com.
Ia berkesempatan hadir pada Musyawarah Nasional (MUNAS) III Forum Lingkar Pena (FLP) di Bali bertajuk “Quo Vadis Penulis Era Digitaltahun 2013 dan MUNAS IV FLP di Bandung bertema “Menjaga Identitas Bangsa di Era Digital” tahun 2017. Ia turut menghadiri acara Ruang Kerja Budaya bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia (KEMDIKNAS RI) di Padang pada Focus Group Discussion (FGD) bertema “Perencanaan Strategi Kebudayaan di Sumatera Barattahun 2013. Hadir pula pada temu akbar Masyarakat Sastra Islam se-Asia Tenggara (MASISTRA) bertema “Rekonstruksi Pemikiran Melayu Bangkit” di Padang tahun 2013, turut berpartisipasi pada Training for Trainer (TFT) FLP Se-Sumbagut bertajuk “Refleksi Budaya Literasi Menuju Sumatera Berkarya” di Medan tahun 2013.
Dalam menulis cerpen anak, ia berhasil menjadi penulis terbaik dalam Sayembara Penulisan Cerita Anak oleh Balai Bahasa Sumatra Barat tahun 2017. Cerpennya “Pudarnya Kejora” tergabung dalam buku Jembatan Merah tahun 2013. Curam” menjadi cerpen pilihan Lomba Cipta Cerpen Tingkat Mahasiswa/Umum se-Indonesia yang tercantum dalam buku Kleptomania tahun 2013 di Kediri. “Meraih Mimpi di Bumi Para Nabi” termaktub pada antologi buku “Membungkus Mimpitahun 2013.dan Aku pun Menjadi Penulis” adalah  antologi buku perdananya di Pare tahun 2012.
Puisi-puisinya dimuat di Buku Antologi Riau Pos 2013. Di sana diterakan nama-nama penyair yang termushaf dalam "Ayat-ayat Selat Sakat". Sebuah antologi puisi Riau Pos bersama penyair-penyair ternama se-Indonesia. Naskah puisinya “Ubun-ubun di Kota Mati” berhasil meraih penghargaan dalam Sayembara Cipta Puisi Bocah Jalanan dan dibukukan Penerbit Alif Gemilang Pressindo bertajuk “Nyanyian Parau Bocah Jalanan” di Yogyakarta dengan penulis berseleksi nasional tahun 2013. Selain itu, buku antologi puisi Tubuh Bencana tahun 2014.
Penulis muda ini pernah mendapat penghargaan pada lomba menulis “Proses Kreatif, Suka Duka Menulis” di Pare, Kediri (2012). Ia pernah juga dinobatkan sebagai finalis pemenang kategori Cerpen Nonfiksi pada Kompetisi Menulis Tulis Nusantara oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (KEMENPAREKRAF RI) bekerjasama dengan Nulisbuku.com bertemaMerayakan Warna-warni Indonesia” serta Workshop Menulis-12 kota di Indonesia tahun 2013.
Penulis turut memperoleh penghargaan dari Proton Edar Padang pada sayembara menulis feature bertajuk “Proton on Campus Jurnalist” tingkat mahasiswa se-Sumatera Barat tahun 2013. Ia semakin menebar pesona pada Harian Haluan yang tak kalah menjadikan penulis ini sebagai sobat favorit bertema “Novelis Berbakat” Januari 2014. Selain itu, Sosok penebar senyum ini telah berhasil menjadi remaja pilihan di Profil Harian Singgalang bertajuk “Sang Aktivis dan Sastrawan Muda” Februari 2014.
Penulis bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatera Barat dari akhir tahun 2012 sampai sekarang. Di tengah aktivitas kepenulisan tersebut, penulis diamanahkan sebagai Ketua Badan Alumni Lembaga Dakwah Kampus Forum Studi Islam Afdhalul Fikri STKIP PGRI Sumatera Barat. Selain penulis, beliau juga tumbuh dan berkembang sebagai pemateri pada pelatihan-pelatihan kepenulisan, diantaranya Pelatihan Menulis Kreatif bertajuk “ Bedah Fiksi dan Kiat Mudah Menembus Media” Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang tahun 2013.
Di tahun 2014, penulis diundang sebagai pemateri dalam Writing Motivation Training bertajuk “Menulis Itu Mudah” di Forum Studi Dakwah Islam  (FSDI) Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Padang, Unit Kegiatan Kerohanian Media School (UMS) bidang Sekolah Kepenulisan di UNP,  Pelatihan Kepenulisan Fiksi dan Nonfiksi Open Recruitment Akbar FLP Sumatera Barat di Balai Kota Padang. Kemudian, penulis juga diundang dalam Bedah Buku Bumi Mahakarya di UIN Imam Bonjol Padang tahun 2015, diskusi kepenulisan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat tahun 2016, Pelatihan Menulis Kreatif, Program Pemantapan Literasi sekaligus juri lomba cerpen antarpelajar se-Kabupaten Dharmasraya tahun 2016, Seminar Nasional Kepenulisan di STKIP PGRI SUMBAR tahun 2016, Seminar Nasional Kepenulisan di IAIN Batusangkar tahun 2017.
Selanjutnya, tahun 2018 penulis diundang dalam pelatihan writerpreneurship di Bukittinggi oleh Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (BEKRAF RI). Pada kesempatan berikutnya, penulis dipilih oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KPPPA RI) di Padang, dan dilanjutkan bersama 3 perwakilan lain dari Sumatera Barat untuk mengikuti Pelatihan untuk Pelatih Bermuatan Inklusif Gender bersama penulis nasional di Surakarta, Solo. Selain itu penulis dipilih dalam peserta Penulisan Blog Kesehatan bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (KEMENKES RI) di Padang. Penulis juga berkesempatan dipilih menjadi peserta undangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (KEMDIKBUD RI) untuk mengikuti kegiatan literasi berupa Residensi Penulis Nasional di Taman Baca Warabal, Lebakwangi, Bogor. Semoga bermanfaat dan menginspirasi. (Padang, November 2018)

Alamat Penulis
TBM Rumah Baca Khalifah  : Jl. Maransi Gang Kampung Sudut, No. 13, RT. 03    RW. 04, Kel. Aie Pacah, Kec. Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, Indonesia, Kode Pos: 25176
surat elektronik                       : dodimujahid@gmail.com
blog pribadi                             : dodimujahid.blogspot.com
facebook & instagram             : Dodi Saputra Berkarya
akun twitter                             : @dodisaputraBIO
handphone dan whatsapp       : 085263753290
nomor rekening                       : 0741057873 BNI Syariah Cabang Padang





Literasi Finansial: Uang Masuk Fenomenal


Kebutuhan Manusia

            Manusia sebagai makhluk sosial tidak terlepas dari interaksi dengan manusia lain. Kebutuhan hidupnya pun dapat dipenuhi berkat usaha-usaha, sesuai kemampuan dan keahlian. Dalam menjalani kehidupan tersebut, manusia mengolah akal pikiran dengan kemampuan dirinya. Sebagaimana kata bijak Ibnu Khaldun, bahwa akal adalah timbangan yang cermat dan hasilnya dapat dipercaya. Ketika pengetahuan dinilai terbatas, seseorang berusaha mencari pengetahuan lebih untuk memperkaya informasi. Aktivitas tersebut diperoleh dalam kegiatan literasi.
            Satu dari bagian literasi itu adalah literasi finansial. Bagian ini terdapat dalam lembaga-lembaga literasi dengan seperangkat pengelolaannya. Suatu lembaga bersama tim pengelola tak lepas dari kendala finansial. Hal itu dibuktikan dengan keadaan kas yang menipis, bantuan pemerintah terbatas, dan tingginya biaya operasional. Kondisi ini menuntut para penggiat literasi menemukan informasi melalui membaca seputar literasi finansial. Targetnya adalah meningkatkan kualitas penggiat literasi dan segenap lembaga terkait, seperti Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan sebagainya.

TBM
Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), sampai tahun 2018 sudah terdaftar 2843 TBM di Indonesia. TBM memegang peran penting dalam memerangi kebodohan masyarakat. Keberadaannya menempati posisi utama, guna menambah ilmu pengetahuan orang-orang di sekitarnya. Melalui kegiatan harian berupa membaca, menulis dan, kegiatan sosial, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan. Pembaca dari lintas profesi menyempatkan diri untuk mencari bahan bacaan guna menunjang kelancaran dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup.
Dari hal inilah muncul istilah literasi finansial. Kemendikbud RI memberikan pemahaman tentang literasi finansial yakni pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep, risiko, keterampilan, dan motivasi dalam konteks finansial. Sehingga literasi finansial menjadi perhatian khusus agar dapat membuat keputusan yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.

Cakupan Literasi Finansial
TBM dapat berdiri dan beroperasi berkat adanya perangkat pengelola. Para pengelola merancang program-program yang diarahkan kepada literasi finansial. Satu motivasi penting dalam memberikan semangat kepada pengelola yakni sebuah hadis sahih: Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya. Hal ini menjadi penguat bahwa tujuan didirikan TBM memang memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Sehingga masyarakat mendapatkan jalan keluar berupa pengetahuan untuk menjawab persoalan seputar finansial.
Guna mewujudkan literasi finansial dibutuhkan cara-cara yang tepat. Sebagaimana Tan Malaka berujar bahwa sebetulnya cara mendapatkan hasil itulah yang lebih penting dari hasil itu sendiri. Dalam praktik di lapangan, para penggiat literasi itu dibekali tiga cara kegiatan literasi finansial. Cara-cara untuk melangkah lebih terstruktur yakni pertama, kegiatan literasi finansial di sekolah. Kegiatan ini diawali dengan studi literatur terkait peran siswa dan perangkat sekolah dalam bidang literasi finansial. Studi itu dapat berupa membaca buku-buku tentang pentingnya menabung, berhemat, kebutuhan berbelanja, kewirausahaan, pasar, dan lembaga keuangan. Sebagai tindak lanjut dari bahan bacaan di atas, pengelola TBM dapat memulai mengajak warga sekolah dengan membiasakan berbelanja di koperasi sekolah. Pentingnya menabung, pembayaran di pasar. Melatih jiwa wirausaha sejak tingkat dasar. Kunjungan ke pasar, dan lembaga keuangan.
Kedua, literasi finansial di lingkungan keluarga. Pengelola TBM menanamkan pentingnya berdagang dalam mengangkat kesejahteraan keluarga. Pemahaman ini dimulai dari studi literatur tentang perjalanan maupun kisah-kisah para pedagang sukses. Anak juga diajarkan mengenai pengelolaan uang belanja pemberian orang tuanya. Hal ini dilakukan dengan mengajak anak berpikir kritis tentang hubungan antara menghasilkan dan membelanjakan, menyimpan dan mendonasikan uang. Selain itu, keluarga juga diajak untuk bersama melakukan studi literatur tentang praktik 4R (reduce, reuse, recycle, recover).
Ketiga, masyarakat diberikan pemahaman tentang produk dan jasa keuangan kepada masyarakat, program  arisan, penyuluhan investasi aman kepada masyarakat. Penyuluhan tentang bahaya meminjam uang pada rentenir, informasi bahan pokok, informasi kredit pemilikan rumah (KPR), dana jaminan sosial, dan sebagainya.

Potret Warung Baca Lebakwangi (Warabal)
Bangsa yang cerdas berawal dari masyarakat yang cerdas pula. Untuk mewujudkan  hal tersebut, dibutuhan modal awal yakni suasana lingkungan warga yang mengerti akan pentingnya belajar. Pembelajaran tahap mula yang dilakukan oleh warga adalah membiasakan budaya membaca. Warga yang telah membiasakan diri untuk membaca. Baik buku maupun bahan bacaan internet, maka dirinya akan terbiasa melahap berbagai informasi yang dapat memperkaya khasanah pengetahuannya. Dengan demikian, apabila ada permasalahan baru seputar finansial sekali pun, ia tidak akan panik dan canggung, sebab tahu bagaimana cara mengatasinya.
Satu dari potret warga yang patut dicontoh adalah warga Lebakwangi di Kabupaten Bogor. Mereka dengan segenap program pemberdayaan masyarakat menggagas tegaknya warung baca. Dari namanya saja, warung dapat diartikan sebagai tempat berbelanja atau jual beli warga. Uniknya, yang didapatkan adalah bahan bacaan yang malah tidak dibeli alias gratis. Penduduk di sekitar warung baca tersebut diberikan fasilitas dan pelayanan berupa bahan bacaan dan tempat yang nyaman untuk membaca serta kegiatan sosial kemasyarakatan.
Ada beberapa poin penting keberhasilan warga Lebakwangi dalam mendirikan warung baca tersebut. Sehingga dengan mengidentifikasi secara baik, akan bisa pula dijadikan sebagai acuan bagi warga yang ada di daerah lain. Mereka pun tidak tertutup kemungkinan melakukan hal yang serupa untuk mendirikan TBM.
Pertama, tingkat kepekaan warga terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di era globalisasi. Orang-orang penting atau berpengaruh di daerah tersebut menelaah secara kritis terhadap perkembangan IPTEK saat ini meningkat drastis. Tentu sebagai warga negara Indonesia yang baik, ada upaya menghadapi persaingan yang semakin sulit di era milenial ini. Mereka menginginkan warga di sekitar tidak hanya mau menerima dan menyaksikan laju perkembangan itu-layaknya penonton-namun juga bisa menjadi pemain atau pelaku yang terlibat dalam upaya memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan masyarakat. Pendiri TBM Warabal, Kiswanti-dalam cerita panjangnya yang mengharukan-telah berhasil melawan kebodohan untuk mewujudkan mimpi mulianya.
Kedua, produktivitas warga yang terus ditumbuhkembangkan. Warga yang produktif adalah warga yang dapat menghasilkan suatu karya atau kerajinan tangan, pengajar dari orang tua siswa, bazar murah, dan sebagainya. Artinya ia dapat membuat ssesuatu dari keahlian dan keterampilan yang dimiliki. Saat ini, orang dari luar negeri semakin gencar memasarkan segala macam produk untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia. Sehingga bangsa Indonesia dikenal dengan bangsa yang konsumtif. Tentu saja kita tidak mau terus disebut demikian. Nah, jika warga sudah banyak membaca dan menulis buku, maka pembaca dapat pula masuk dalam pasar, dengan produk yang ia hasilkan. Misal, warga yang sudah membaca buku tentang kuliner. Maka ia mendapatkan wawasan tentang pembuatan suatu makanan atau minuman yang dapat dipasarkan di masyarakat luas. Demikian pula dengan pembaca di bidang teknologi, industri, kemaritiman dan agraria. Mereka dapat menciptakan dan mengembangkan setiap ilmu dan keterampilan dari hasil membaca tadi. Itu adalah satu bentuk produktivitas yang bermula dari literasi finansial.
Ketiga, warga menjaga kekompakan dalam bermasyarakat, meskipun masyarakat itu sub-urban. Seandainya ada satu orang saja yang produktif, namun tidak mampu menjaga kekompakan warga, maka produktivitas hanya untuk kepentingan pribadi saja. Untuk itu, kekompakan warga diperlukan dalam mengangkatkan kegiatan kecil; diskusi, rapat, dan gotong royong. Satu ide kreatif dari seseorang yang mengajukan upaya pendirian warung literasi atau kampung literasi, dapat menarik perhatian banyak orang. Terlebih memang saat ini tingkat minat baca dinilai masih rendah. Warga yang sama-sama menginginkan anaknya cerdas, maka ia akan setuju dan mendukung upaya tersebut.
Keempat, warga menyadari pentingnya berbudaya literasi. Orang tua yang mengetahui kebiasaan anaknya di sekolah di pagi hari, maka ia akan tahu tentang budaya literasi ini. Sejak dikeluarkan kebijakan oleh pemerintah- tentang membaca buku di 15 menit saat awal pembelajaran-orang tua manyadari ternyata anaknya memiliki wawasan yang lebih dari biasanya. Bukan sekadar belajar sains dan bidang studi pokok saja, melainkan mendapat ilmu pengetahuan bervariasi dari hasil bacaan tersebut. Terlebih ada sekolah yang lebih serius lagi dengan melakukan kegiatan resensi buku, bedah buku, atau pemantapan literasi sekolah. Warga yang mengetahui hal ini akan membuka pola pikirnya bahwa pendirian warung baca atau kampung literasi itu benar-benar penting.
Kelima, pengelolaan TBM yang rapi. Ketika warga sudah sepakat mendirikan taman bacaan di daerahnya, maka harus dikelola dengan baik. Warga bisa bermusyawarah untuk memilih perangkat pengelola TBM. Dengan demikian, lalu lintas transfer ilmu melalui peminjaman buku dan aktivitas sosial dapat berlangsung lancar. Inilah yang dapat menciptakan suasana TBM yang kondusif dengan fasilitas, sarana, dan prasarana yang lengkap. Melihat tata kelola yang rapi tersebut, proses belajar pun lebih memuaskan dan menyenangkan. Mereka memiliki tugas pokok dan fungsi organisasi yang jelas, mampu menjalin mitra dengan pemerintah setempat, maupun pemerintah pusat. Inilah yang membuat TBM Warabal dinilai layak sebagai tuan rumah untuk mengundang peserta residensi dari berbagai wilayah di Indonesia.
Kelima hal hasil identifikasi penulis di atas merupakan bentuk dari literasi finansial. Artinya literasi selain sebagai ladang amal, juga mendatangkan keuntungan secara materi untuk penggiat literasi. Setelah seseorang membaca, maka dilanjutkan dengan menulis dan penerapan sesuai bidang keahliannya. Berikutnya, ia dapat memasarkan karya tulisnya di kalangan publik-baik berupa media cetak, maupun audio visual-sebagaimana yang terdapat dalam kategori klasifikasi literasi nasional.

Menilik Keunikan Kampung Literasi Warabal
Kampung literasi Warabal saat ini mendapat perhatian dari pemerintah sebagai tuan rumah kegiatan literasi nasional 2018. Kiswanti bersama relawan punya daya tarik berupa usaha jamu, perpustakaan keliling, pendampingan belajar, bank sampah, simpan pinjam, kelas musik, kelas keterampilan, PAUD dan TPQ Nurul Qalbu, marawis, qasidah, dan majelis taklim. Sebuah TBM komplit yang didirikan dan didesain, layaknya perpustakaan masyarakat. Uniknya, desain interior dan eksteriornya tidak kaku seperti perpustakaan pada umumnya. Warung baca ini memakai sistem peminjaman gratis untuk masyarakat sekitar, dengan daya tarik berupa titik-titik lokasi yang baik untuk berfoto dan tempat duduk yang nyaman dan menyenangkan. Selain kelengkapan bahan bacaan, bangunan tersebut sangat cocok untuk tempat bersantai dan berkumpul bersama saudara sembari menikmati bahan bacaan dari lintas disiplin ilmu. 
Sejatinya, segala sesuatu jika dikerjakan oleh orang yang ahli, maka akan didapatkan hasil yang baik pula. Begitu pula yang ada di Warabal ini, ternyata orang-orang yang megelola TBM Warabal ini telah memiliki keterampilan dan keahlian di bidang literasi; pengelolaan bank sampah Uwuh Wiguna (sampah berguna), relawan dengan keahlian kuliner (queen kitchen). Maka pantaslah TBM ini dapat berdiri dan berkembang sampai saat ini. Di bawah bimbingan dari Kiswanti dan rekan-rekannya, mereka senantiasa berupaya meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan pada masyarakat. Tujuannya adalah tercipta masyarakat yang cinta membaca dan membudayakan membaca.
Minat membaca masyarakat Indonesia tidak menempati posisi baik di mata dunia. Survei dari lembaga-lembaga literasi terkait semakin menguatkan bahwa tingkat minat baca itu perlu ditindaklanjuti secara serius. Dalam hal ini, tentu pemerintah mendapat sorotan utama dalam menentukan kebijakan dalam menyikapi permasalahan tersebut. Kemendikbud melalui Direktorat Jenderal Pendidikan dan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat mengundang peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kemendikbud menghelat kegiatan dengan tema Peningkatan Kapasitas TBM dan Residensi Penggiat Literasi Tahun 2018 di TBM Warabal, Bogor.
Dalam acara tersebut, peserta dikenalkan tentang wawasan kampung literasi di Lebakwangi, Desa Pemagarsari, Parung, Kabupaten Bogor. Sebuah bangunan yang didirikan secara sadar dan terencana oleh warga dengan kerja sama dan kesungguhan dalam rangka membuat inovasi untuk negeri. Begitu peserta sampai di lokasi tersebut, peserta disambut dengan tulisan kampung literasi yang dipasang di gubuk unik di sebelah sudut bangunan.
Ketika memasuki pintu bangunan itu, mata peserta langsung dihadapkan pada kerajinan tangan yang unik, serta rak-rak buku dengan berbagai koleksi literatur lengkap. Bagian dinding dalam bangunan ini nyaris penuh dengan koleksi buku, piagam penghargaan, mainan kreatif, dan dokumentasi orang-orang penting di negeri ini. Tak hanya itu, peserta juga dilibatkan dalam merancang program-program seputar literasi finansial.
Literasi finansial sengaja diangkat dalam topik khusus, sebab literasi finansial mendapat tempat untuk menumbuhkembangkan keberlangsungan produktivitas pembaca dan penulis. Waktu 4 hari bagi peserta dimanfaatkan untuk mengelola taman bacaan agar lebih baik. Saat ini TBM di berbagai wilayah-yang sempat mati suri-mesti mempelajari arti penting literasi finansial. Artinya, literasi bukan sekadar membaca dan menulis belaka, namun literasi lebih jauh memberi manfaat dapat memberikan kesejahteraan bagi penggiatnya.
Dengan kemampuan menulis di berbagai media dan kedekatan dengan karib kerabat, maka hasil karya tulis dapat didistribusikan secara luas di Indonesia. Peserta yang hadir adalah 20 peserta dari 500 peserta yang diseleksi. Mereka adalah penggiat literasi yang dinilai berkompeten dalam peningkatan kuantitas TBM. Keberhasilan warga dalam mendirikan TBM merupakan upaya positif dalam rangka turut menyukseskan program pemerintah tentang budaya membaca di lintas usia. Begitulah yang ada di TBM Lebakwangi ini. Mereka dengan segenap warga lainnya yang dipercayakan mengelola taman bacaan tersebut, diharapkan menjaga ketekunan dalam menghidupkan gairah literasi masyarakat.
TBM Warabal telah menunjukkan kepada publik bahwa mereka telah bersungguh-sungguh dan serius menggiatkan budaya membaca di daerahnya. Sebagai tindak lanjut dari tulisan ini, agaknya para pembaca yang budiman dapat pula berdiskusi lebih lanjut dengan orang-orang terdekat yang memiliki visi dan misi yang sama untuk mendirikan TBM pula di daerahnya. Sehingga literasi bukan hanya ada di kota besar atau sekolah dan kampus saja, tetapi literasi juga dirasakan oleh masyarakat dari lintas profesi dan lintas usia di Indonesia.

Pertumbuhan Literasi di Kota Padang
Perkembangan literasi di Kota Padang saat ini terlihat dari hasil penelitian di berbagai literatur. Penelitian pertama dijelaskan oleh Irmawita (2012) dalam Jurnal Universitas Negeri Padang yang menerangkan tentang penataan TBM sebagai sarana pembelajaran warga belajar pendidikan nonformal. Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai program pendidikan nonformal yang dilaksanakan di masyarakat seperti; program pendidikan keaksaraan fungsional, pendidikan kesetaraan, pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan kepemudaan. Program pendidikan nonformal ini dilaksanakan oleh PKBM maupun LSM yang merupakan lembaga pendidikan nonformal. Mendukung pelaksanaan pendidikan nonformal ini maka disediakan TBM.
TBM merupakan perpustakaan masyarakat yang menyediakan koleksi bahan bacaan, dapat dimanfaatkan oleh warga belajar untuk meningkatkan pengetahuannya, tempat berdiskusi dan bertukar pikiran sesama warga belajar setelah membaca sumber bacaan. Bahan bacaan yang ada di TBM cenderung menyediakan koleksi bacaan yang sesuai dengan kebutuhan belajar masyarakat seperti buku tentang pertanian, agama, penataan hidup rumah tangga, dan sebagainya yang dapat menambah pengalaman tentang pekerjaan dan menata kehidupan dari warga belajar.
Hasil penelitiannya adalah sebagian besar dari warga belajar menyatakan dari aspek pemilihan lokasi, pelaksanaan sosialisasi, ketersediaan sarana dan prasarana, penempatan waktu, pelaksanaan pengelolaan dan keadaan koleksi bacaan sudah tertata dengan baik, dan TBM sudah dimanfaatkan oleh warga belajar pendidikan nonformal sebagai pusat pembelajaran.
Dalam Jurnal Pustaka Budaya (2010) oleh Nurul Adhmi, Nining Sudiar dan Vita Amelia. Para peneliti tersebut telah memaparkan hasil analisanya tentang perkembangan TBM di Kota Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hal pertumbuhan TBM di Kota Padang terbilang lambat. Hal ini terlihat selama 45 (empat puluh lima) tahun  dari tahun 1965 hingga berdiri hanya ada 16 (enam belas) TBM yang ada di Kota Padang yaitu tahun 1965, 1968, 1975, 1980, 1983, 1985, 1997 dan 2005 hanya berdiri 1 (satu) TBM tiap tahunnya (6,25%). Barulah pada tahun 1989, 2008, 2009 dan 2010 tumbuh 2 (dua) TBM (12,5%).
Meskipun demikian, penggiat literasi tetap menjalin jejaring dengan pemerintah terkait; Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Padang, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Kota Padang, dan masyarakat. Uniknya, demi meningkatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan, terdapat satu tempat, yakni Kelurahan Purus berinisiatif mendirikan TBM bagi masyarakat Purus. Dan hingga awal tahun 2017, sudah berdiri 2 TBM, yang pertama dalah TBM Tanah Ombak. Lokasinya berada di antara pemukiman penduduk. Sementara TBM yang kedua berada di dekat Danau Cimpago.
Dengan mengandalkan swadaya masyarakat, sumbangan donatur dan program pemerintah Kota Padang, pemerintah Kecamatan Padang Barat dan pemerintah Kelurahan Purus, kedua TBM ini sudah dilengkapi koleksi-koleksi buku dengan tema beragam. Sebagian besar bermanfaat untuk peningkatan pendidikan dan ilmu pengetahuan warga. TBM ini juga dilengkapi dengan meja dan kursi serta pendukung-pendukung lainnya. Bahkan, pemerintah Kelurahan Purus di hari tertentu mendatangkan pengajar lepas untuk memberi jam belajar tambahan di luar jam sekolah bagi anak-anak sekolah.
Perbandingan potret TBM Warabal dengan TBM lainnya tampak jelas. Selain sudah 20 tahun berdiri dan beroperasi, TBM Warabal menjadi model literasi finansial bagi TBM lainnya. Dari penjabaran di atas terdapat hal pokok, yakni literasi finansial bukan semata-mata membaca, dan menulis. Namun seputar upaya bersama dalam mendapatkan uang masuk untuk kesejahteraan bersama. TBM di daerah perlu menyesuaikan dan mencoba program yang telah ada di TBM Lebakwangi. Bermula dari tata kelola, kepenulisan, kewirausahaan, dan jejaringnya.             Buya hamka dalam pesannya mengatakan tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil. Namun, apakah program literasi finansial yang bisa dicobakan di TBM daerah lain? Mari mencoba!* (Bogor, 2018)